Riset
Kategori
Tanggal
 

13-Desember-2017 PHINTAS Daily Report 13 Desember 2017
12-Desember-2017 PHINTAS Daily Report 12 Desember 2017
12-Desember-2017 PHINTAS Market Preview 13 Desember 2017
11-Desember-2017 PHINTAS Weekly Report 11 Desember 2017
11-Desember-2017 PHINTAS Market Preview 12 Desember 2017
08-Desember-2017 PHINTAS Daily Report 8 Desember 2017
07-Desember-2017 PHINTAS Market Preview 8 Desember 2017
06-Desember-2017 PHINTAS Daily Report 6 Desember 2017
06-Desember-2017 PHINTAS Market Preview 7 Desember 2017
05-Desember-2017 PHINTAS Daily Report 5 Desember 2017
05-Desember-2017 PHINTAS Market Preview 6 Desember 2017
04-Desember-2017 PHINTAS Weekly Report 4 Desember 2017
04-Desember-2017 PHINTAS Market Preview 5 Desember 2017
04-Desember-2017
PHINTAS Market Preview 5 Desember 2017

IHSG : 5998.195 (+46.057) (+0.774%)

Value : Rp10.95 Triliun

F. Nett Sell : Rp845.32 Miliar

USD/IDR : 13,525 (+1) (+0.01%)

 

IHSG menguji level psikologis 6000 sepanjang perdagangan Senin (4/12), meskipun dibayangi oleh aksi jual Investor Asing (net sell) yang cukup signifikan. Salah satu penopang IHSG adalah aksi bargain hunting pada sejumlah saham bluechip di Sektor Consumer Goods (4/12). Aksi ini bersamaan dengan rilis data inflasi November yang sebesar 0.20% mom atau 3.30% yoy. Sebagai informasi, asumsi inflasi dalam APBN-P 2017 adalah 4.3%±1% yoy.

 

Penguatan IHSG juga didorong oleh penguatan harga saham sejumlah bank bluechip, terutama BBCA (+2.21%), BMRI (+0.68%), BBRI (+2.80%) dan BBNI (+1.54%). Hal ini bersamaan dengan peresmian program Gerbang Pembayaran Nasional (GPN) pada hari ini (4/12).

 

Penguatan cukup signifikan juga dicatatkan oleh saham-saham pertambangan. Disamping faktor pembentukan holding BUMN Tambang, kesepakatan perpanjangan program pemangkasan produksi OPEC turut memicu penguatan harga saham-saham tambang.