Berita
Berita
Tanggal
 

25-September-2017 Franky Sibarani Didaulat Jadi Komut Taspen
25-September-2017 Perbanyak Turis, AP I Roadshow ke Tiga Negara
25-September-2017 SMGR Bakal Pasok Semen ke Fiji 2018
25-September-2017 KPU Temanggung Targetkan Partisipasi Pemilih Tertinggi Jateng
25-September-2017 Presiden Lakukan Kunjungan Kerja ke Jawa Tengah
25-September-2017 Presiden Lakukan Kunjungan Kerja Ke Jawa Tengah
25-September-2017 Museum Akan Dijadikan Tempat Kunjungan Asian Games
25-September-2017 Gempa 5,5 SR Guncang Bengkulu Utara
25-September-2017 Beranda - Ratusan Warga Papua Ikuti Tes Magang Ke Jepang
25-September-2017 KPU Bangkalan: Cabup Harus Didukung 10 Kursi
Halaman : Selanjutnya >
13-September-2017
KPK Periksa Dua Auditor BPK Tersangka TPPU
Jakarta (Antara) - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) akan memeriksa dua tersangka terkait Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) dalam pengembangan tindak pidana korupsi penerimaan hadiah atau janji terkait dengan pemberian opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) di Kemendes PDTT Tahun Anggaran 2016.

'Dua tersangka yang akan diperiksa itu antara lain Rochmadi Saptogiri (RSG) dan Ali Sadli (ALS),' kata Juru Bicara KPK Febri Diansyah di Jakarta, Rabu.

Rochmadi Saptogiri merupakan Auditor Utama Keuangan Negara III BPK RI dan Ali Sadli merupakan Kepala Sub Auditorat III B pada Auditorat Utama Keuangan Negara III BPK RI.

Selain memeriksa dua tersangka itu, KPK juga akan memeriksa tiga saksi dari pihak swasta untuk dua tersangka tersebut dalam kasus yang sama.

Dua saksi yang akan diperiksa untuk tersangka Rochmadi Saptogiri, yakni Galuh Prariningrum dan Januar Mangitu.

Sedangkan satu saksi untuk tersangka Ali Sadli, yakni Adhi Masya.

Tersangka RSG dan ALS diduga telah perbuatan menempatkan mentransferkan, mengalihkan, membelanjakan, membayarkan, menghibahkan, menitipkan, membawa ke luar negeri, mengubah bentuk, menukarkan dengan mata uang atau surat berharga atau perbuatan lain terhadap harta kekayaan yang diketahui atau patut diduga merupakan hasil tindak pidana korupsi.

Atas perbuatannya RSG disangkakan melanggar Pasal 3 dan/atau Pasal 5 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 Tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang.

Sedangkan ALS disangkakan melanggar Pasal 3 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 Tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang.

Sebelumnya kedua tersangka telah ditetapkan sebagai tersangka terkait kasus indikasi penerimaan hadiah atau janji terkait denga opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) di Kemendes PDTT Tahun Anggaran 2016.

Saat itu, RSG dan ALS disangkakan melanggar pasal 12 huruf a atau Pasal 12 huruf b atau pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP.

Pasal itu mengatur mengenai pegawai negeri atau penyelenggara negara yang menerima hadiah, padahal diketahui atau patut diduga bahwa hadiah tersebut diberikan sebagai akibat atau disebabkan karena telah melakukan atau tidak melakukan sesuatu dalam jabatannya yang bertentangan dengan kewajibannya dengan hukuman minimal 4 tahun penjara dan maksimal 20 tahun penjara dan denda paling sedikit Rp200 juta dan paling banyak Rp1 miliar.

Sebelumnya, mantan Inspektur Jenderal Kemendes PDTT Sugito dan mantan Kepala Bagian Tata Usaha dan Keuangan Itjen Kemendes PDTT Jarot Budi Prabowo didakwa memberikan suap terhadap dua pejabat BPK RI tersebut terkait dengan pemberian opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) sebesar Rp240 juta.

Sugito dan Jarot didakwa melanggar pasal 5 ayat 1 huruf atau huruf b atau pasal 13 UU No. 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan UU No. 20 Tahun 2001 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo 64 kuhp jo pasal 55 ayat-1 ke-1 KUHP.(rr)