Berita
Berita
Tanggal
 

26-July-2017 Waskita Precast Beton Siapkan Rp1 Triliun untuk Buyback
26-July-2017 Pupuk Indonesia Group Tekan Biaya Asuransi 50%
26-July-2017 PKB: Tujuan Utama Pembangunan Papua Adalah Kemanusiaan
26-July-2017 PAN: Belum ada Keputusan Keluar Pansus Angket
26-July-2017 Perkuat Bisnis, Bank Mandiri Kelola Keuangan Peruri
26-July-2017 Legislator Bantah Pemanggilan Mantan Napi Sudutkan KPK
26-July-2017 Presiden Lantik Dewan Pengawas dan Anggota BPKH
26-July-2017 KPK Periksa Dua Saksi Swasta untuk Novanto
26-July-2017 Rupiah Rabu Pagi Menguat Ke Rp13.309
26-July-2017 IHSG Rabu Dibuka Melemah Tipis 1,36 Poin
Halaman : Selanjutnya >
17-July-2017
Senator Australia Bertemu Wantimpres Bahas Montara
Jakarta (Antara) - Senator Rachel Siewert dari Partai Hijau Australia bertemu dengan Ketua Dewan Pertimbangan Presiden (Watimpres) Sri Adiningsih di Jakarta, Senin, untuk membahas pencemaran Laut Timor akibat meledaknya kilang Montara delapan tahun lalu pada 21 Agustus 2009.

'Kami baru saja mendampingi Senator Rachel Siewert membahas berbagai hal terkait pencemaran Laut Timor dengan Ketua Wantimpres,' kata Ketua Peduli Timor Barat Ferdi Tanoni kepada pers di Jakarta, Senin.

Dalam pertemuan itu, kata Ferdi, dibahas soal apresiasi atas sikap Menko Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan terhadap pemerintah Australia untuk turut bertanggung jawab dalam kasus Montara.

Sikap ini oleh Senator Rachel Siewert sangat tepat karena Australia selain sebagai regulator juga bertanggung jawab atas penyemprotan bubuk kimia beracun dispersan jenis Corexit 9500 dan 9572 A dalam jumlah sangat besar di atas permukaan Laut Timor untuk menenggelamkan tumpahan minyak Montara ke dalam dasar Laut Timor,' katanya.

Reaksi dari dispersan jenis Corexit 9500 dan 9572 A itu, tambahnya, dalam tempo 24 jam setelah penyemprotan dilakukan, seketika juga membunuh ikan-ikan besar dan kecil yang ada di Laut Timor pada saat itu.

'Tanggung jawab itu harus ditindaklanjuti dengan langkah-langkah nyata dan mencari solusi bersama karena berdampak sangat berbahaya terhadap ekosistem, biota laut dan kesehatan manusia,' kata Tanoni mengutip Senator Rachel Siewert dalam pertemuan dengan Ketua Matimpres Sri Adiningsih tersebut.

Tanoni mengatakan pihaknya juga telah mengusulkan kepada Menko Bidang Kemaritiman Luhut Binsat Pandjaitan untuk membentuk sebuah task force yang terdiri dari masyarakat korban dan pemerintah untuk menindaklanjuti pertemuan dengan Dubes Australia Paul Grigson pada 2 Desember 2016 dan pertemuan dengan Menlu Australia pada 6 Maret 2017.

Seharusnya, kata Tanoni, Senator Rachel Siewert bertemu dengan Menko Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan, namun sejak permohonan diajukan satu bulan lalu, belum ada kejelasan terkait agenda pertemuan tersebut. Pertemuan Senator Rachel Siewert dan Menko Maritim Luhut B Pandjaitan sangat penting bagi masyarakat di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Ia mengatakan Senator Siewert memiliki peran penting dan strategis dalam mengungkap kasus tersebut karena beliau memprakarsai terbentuknya Komisi Penyelidik Kasus Tumpahan Minyak Montara oleh Pemerintah Federal Australia pada November 2009.

Selain itu, Senator Siewert juga yang memprakarsai sebuah dengar pendapat di Senat Australia dengan pihak AMSA (Australia Maritime Safety Authority), sebuah badan keamanan maritim di bawah Pemerintah Federal Australia pada 2010.

'Dari hasil pertemuan tersebut, terungkaplah bahwa AMSA telah menyemprotkan bubuk kimia sangat beracun dispersan jenis Corexit 9500 dan 9572 A dalam jumlah sangat besar di atas permukaan Laut Timor untuk menenggelamkan tumpahan minyak Montara ke dalam dasar Laut Timor pada saat itu,' katanya.

Atas dasar itu, sikap tegas Pemerintah Indonesia sebagaimana disampaikan oleh Menko Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan agar Australia harus turut bertanggungjawab atas petaka tumpahan minyak di Laut Timor itu, adalah sebuah keharusan yang tidak bisa ditawar-tawar.(ma)